0


NAMA : MUHAMMAD SILAHUDDIN
NIM : 113111068
MAKUL : MEDIA PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : Fiqih Madrasah Aliyah
Kelas/ Semester : XI/ Gasal
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Tahun Pelajaran : 2013/2014
I. Standar Kompetensi
1. Memahami ketentuan tentang peradilan dan Hikmahnya
II. Kompetensi Dasar
1.1 Menjelaskan proses peradilan dalam islam
2.2 Mengidentifikasi ketentuan tentang hakim dan saksi dalam peradilan islam
III. Indikator
1.1. Menjelaskan pengertian peradilan
1.2. Menjelaskan fungsi peradilan dalam Islam
1.3. Menjelaskan hikmah peradilan dalam islam
1.4 Menjelaskan proses peradilan dalam islam
1.5. Menjelaskan sistem peradilan dalam Islam
1.6. Bentuk-bentuk peradilan
2.1. Menjelaskan pengertian hakim
2.2. Menyebutkan fungsi hakim
2.3. Menyebutkan syarat-syarat hakim hakim
2.4.. Menjelaskan macam-macam hakim
2.5. Menjelaskan adat kesopanan/ etika hakim
2.6. Menjelaskan kedudukan hakim wanita
2.7 Menjelaskan pengertian saksi
14. Menyebutkan syarat- syarat saksi

IV. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu atau dapat :
1. Menjelaskan pengertian peradilan
2. Menjelaskan fungsi peradilan dalam Islam
3. Menjelaskan hikmah peradilan dalam islam
4. Menjelaskan proses peradilan dalam islam
5. Menjelaskan sistem peradilan dalam Islam
6. Bentuk-bentuk peradilan
7. Menjelaskan pengertian hakim
8. Menyebutkan fungsi hakim
9. Menyebutkan syarat-syarat hakim hakim
10. Menjelaskan macam-macam hakim
11. Menjelaskan adat kesopanan/ etika hakim
12. Menjelaskan kedudukan hakim wanita
13. Menjelaskan pengertian saksi
14. Menyebutkan syarat- syarat saksi

V. Materi ajar
Peradilan (Qadha)
Pengertian Peradilan
Al-qadha atau sering disebut peradilan telah lam dikenal sejak dari zaman purba dan dia merupakan suatu kebutuhan hidup bermasyarakat. Tidak dapat suatu pemerintahan berdiri tanpa adanya peradilan. Kaena peradilan itu adalah untuk menyelesaikan segala sengketa di antara para penduduk.[1]
Sedangkan menurut istilah atau terminology al-qadha didefinisikan
1. Menurut istilah ahli fiqh, ialah:
a. Lembaga Hukum.
b. Perkataan yang harus dituruti yang diucapkan oleh seseorang yang mempunyai wilayah umum, atau menerangkan hukum agama atas dasar nebgharuskan orang mengikutinya.[2]

2. Qadha juga didefinisikan
1. ا لو لا ية ا لمعرو فة
“kekuasaa yang dikenal (kekuasaan yang mengadili dan memutuskan perkara)”

2. هو ا لفصل فى ا لخصو ما ت خمسا لتدا عى و قطعا لنزا ع با لا حكا م ا لشر عية ا لمتلقا ة من ا لكتا ب و
ا لسنة Menyelesaikan perkara pertengkaran untuk melenyapkan gugat mengugat dan untuk memotong pertengkaran dengan hukum-hukum yang dipetik dari Al-Qur’an dan sunnah”.
3. Menurut ‘Ukbary dalam kulliyatnya yang dimaksud dengan peradilan adalah:
قو ل ملزم صدرعن ذ ي و لا اية عا مة
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peradilan adalah lembaga yang mempunyai kekuasaan umum untuk mengadili dan memutuskan perkara antara dua orang atau lebih dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis.[3]

Fungsi Peradilan dalam Islam
Sebagai lembaga yang ditugasi untuk menyelesaikan dan memutuskan setiap perkara dengan adil, maka peradilan berfungsi sebagai berikut :
untuk menciptakan ketertiban dan ketentraman masyarakat yang di bina melalui tegaknya supermasi hukum.
Untuk mengayomi masyarakat secara adil
Terciptanya amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu menyampaikan hak kepada orang lain.
Dapat mewujudkan perbaikan umum
Dapat terlindungi jiwa, harta, dan kehormatan masyarakat.
Menciptalan kemaslahatan umat dengan tetap tegak berdirinya hukum islam.

3. Hikmah peradilan
Hikmah peradilan itu sangat besar sekali bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dab bernegara, yaitu :
عَنْ جَا بِرِ قَلَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيُهِ وَسَلٌم يَقُوْلُ كَيْفَ تَقَدَّس امة لا يؤخد من شديد هم لِضَعِيفِهِمْ
Artinya: dari jabir berkata, saya mendengar rasulullah SAW, bersabda: tidak (dinilai) bersih suatu masyarakat dimana hak orang lemah diambil oleh yang kuat (HR. Ibnu hiban)
Terciptanya aparatur pemerintahan yang bersih dan beriwibawa
Tercptanya keadilan bagi seluruh rakyat
Terwujudnya ketentraman, kedamaian, dan keamanan dalam masyarakat
Dapat mewujudkan suasana yang mendorong untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, bagi semua pihak.
4. Proses peradilan dalam islam
Dalam menjatuhkan satu hukum, seorang hakim harus melakukan proses dengan melalui berbagai tahapan, seperti mendengarkan dakwaan dari pendakwa atau penuduh, memberikan kesempatan terdakwa untuk menanggapi dakwaan, memeriksa kebenaran dakwaan melalaui bukti atau pun saksi, dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya gambaran dari proses tersebut, yaitu :
Pendakwa atau penuduh diberikan kesempatan secukupnya untuk menyampaikan tuduhannya sampai selesai.
Terdakwa atau tertuduh diminta mendengarkan, agar dapat menilai benar atau tidaknya dakwaan tersebut.
Hakim tidak boleh bertanya kepada terdakwa, sebelum dakwaan atau tuduhan selesai disampaikan,sebab dikhawatirkan dapat memberikan pengaruh positif maupun negative pada terdakwa.
Hakim memeriksa tuduhan-tuduhan tersebut dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang dianggap penting, untuk menguatkan dakwaannya. Apabila terdakwa menolak, maka ia harus bersumpah.
Pendakwa harus menunjukkan bukti-bukti yang benar, untuk menguatkan dakwaannya.
Sabda Nabi saw.yang artinya “orang yang mendakwa harus menunjukan bukti dan orang yang terdakwa harus bersumpah”(HR. Baihaqi)
Apabila pendakwa menunjukkan bukti-bukti yang dapat dibenarkan, maka hakim harus memutuskan sesuai dengan tuduhan, meskipun terdakwa menolak dakwaan tersebut. Sebaliknya, jika tidak terdapat bukti yang benar, hakim harus menerima sumpah terdakwa sekaligus membenarkan terdakwa.

5. Sistem peradilan dalam Islam
Pada 1400 terakhir sejarah negara Islam, dikenal dengan administrasi peradilannya, dan kemampuannya melindungi hak-hak rakyat dan hal inilah yang sangat berbeda dengan seluruh aspek kehidupan bangsa lainnya baik secara pribadi maupun politik.
Ada 2 orang yang bertanggung jawab dalam mengimplementasikan Islam dalam berbagai hal yakni: Khalifah dan Qadhi (hakim). Khalifah menjalankan hukum-hukum Islam dan menerapkannya kepada seluruh rakyat, sedangkan hakim mengambil putusan-putusan secara Islami untuk kondisi-kondisi yang berbeda berdasarkan sumber-sumber (seperti Al-Qur`an, As Sunnah dan segala sesuatu yang berasal dari keduannya) dan menggunakannya.Karena itu peradilan merupakan salah satu pilar yang fundamental dalam negara Islam dan di atas hal inilah sistem pemerintahan disandarkan sebagai bagian Implementasi Islam dalam kehidupan politik. Dalam negara Islam telah ada sebuah peradilan yang senantiasa menjalankan keadilan dan menghukum siapa saja yang patut dihukum ditengah-tengah masyarakat untuk memastikan bahwa Islam telah ditaati secara terus-menerus. Sistem peradilan ini tidak ada yang bertentangan dengan Islam malah ia berasal dari aqidah Islam dan membentuk satu kesatuan yang padu dalam pandangan hidup Islam, ditambah dengan Sistem Islam yang lain seperti Sistem Ekonomi (Iqtisad), dan ritual (ibadah) yang saling menyempurnakan satu sama lain.
6. Bentuk-bentuk Peradilan
Ilmu fiqh menyatakan, bahwa peradilan atau al-qadla adalah merupakan fardhu kifayah, yakni kewajiban kolektif bagi ummat, seperti halnya dengan mendirikan shalat jum’ah, memelihara mayit dan lain-lain sebagainya, termasuk mendirikan “imamah” yakni kepemimpinan ummat. Qadla dapat dilakukan dalam tiga bentuk.
Bentuk pertama: peradilan harus dilakukan atas dasar pelimpahan wewenang atau “tauliyah” dari imam. Imam adalah kepala Negara yang disebut pula dengan “waliyul-amri”. Dalam pada itu sekiranya seorang penguasa, yang di dalam istilah fiqh disebut “dzu syaukah”, dan sekalipun sultan yang kafir mengangkat seorang hakim yang kurang memenuhi persyaratan, keputusan hakim yang demikian itu harus dianggap berlaku sah, demi tidak untuk mengabaikan kemaslahatan umum.
Bentuk kedua: Bila di suatu tempat tidak ada penguasa atau Imam, pelaksanaan peradilan dilakukan atas dasar penyerahan wewenang, yakni Tauliyah dari “ahlul halli wal’aqdi”, yaitu para tetua dan sesepuh masyarakat seperti ninik-mamak di sumatera barat, secara kesepakatan.
Bentuk ketiga: Dalam keadaan tertentu, terutama bila di sesuatu tempat tidak ada hakim, maka dua orang yang saling sengketa dapat “bertahkim” yakni mengangkat seseorang untuk bertindak sebagai hakim dengan persyaratan antara lain kedua belah pihak terlebih dahulu sepakat akan menaati keputusannya, begitu pula tidak menyangkutkan keputusannya dengan hukuman badaniyyah, yakni pidana dan lain-lain sebaagainya[4]

7. Pengertian Hakim
Hakim ialah seseorang yang diangkat oleh pemerintah untuk menyelesaikan persengketaan dan memutuskan hukum suatu perkar dengan adil.
اِذَا جَلَسَ اْلقَا ضِى فِى مَكَانِهِ هَبَط عَلَيْهِ مَلَكَا نِ يُسَدِّ دَا نِهِ وَيُوَ فِّقَا نِهِ وَيُرْ شِدَا نِهِ مَالَمْ يَجِرُ فَاِذَا جَا رَعَرَ جَا تَرَكَا هُ
Artinya : apabila sesorang hakim duduk di tempatnya (sesuai dengan kedudukan hakim adil), maka dua malaikat mebenarkanmembenarkan, menolong, dan menunjukkannya selama tidak serong, apabila menyeleweng mak kedua malaikat meninggalkanya” (HR. Baihaqi)
8. Fungsi seorang hakim adalah:
a. Mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa
b. Menetapkan sanksi bagi para pelaku yang melanggar hukum
c. Bertugas menyelesaikan persengketaan
9. Syarat- syarat Hakim
Islam
Baligh
Sehat jasmani rohani
Merdeka
Berlaku adil sesuai prinsip kebenaran dan keadilan
Laki- laki (menurut syariat islam)
Memahami alquran dan assunah
Memahami ijma’
Memahami bahasa arab dengan baik
Mampu dan menguasai metode ijtihad
Pendengaranya dan penglihatanya baik
Pandai baca tulis
Memiliki ingatan yang kuat dan dapat berbicara dengan jelas.[5]

10. Macam- macam Hakim
Hakim yang tahu kebenaran dan memutuskan dengan kebenaran itu, maka dia masuk surga
Hakim yang mengetahui kebenaran dan memutuskan dengan menyimpang dari kebenaran, maka ia masuk neraka
Hakim yang tidak tahu kebenaran dan memutuskan dengan kebodohan, maka dia masuk neraka.

Adab/ kesopanan/ etika hakim
a. Melaksanakan tata tertib pengadilan
Memperlakukan sama terhadap orang yang berpekara atas tiga hal, yaitu : tempat duduk, kata-kata dan perhatian
Seorang hakim tidak boleh menerima hadiah dalam bentuk apapun dari orang- orang yang berpekara.
Bertempat di tengah kota[6]

Kedudukan Hakim Wanita
Menurut imam madzab syafi’i, maliki dan hambali tidak memperbolehkan mengangkat seorang wanita. Dasarnya adalah hadis Rasulullah: “suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada orang perempuan tidak akan bahagia”
Sedangkan imam Hanafi membolehkanya kecuali masalah had dan qishash. Ibnu jarir at- Thabari juga membolehkanya
13. Saksi
Kesaksian diambil dari kata musyahadah, yang berarti melihat dengan mata kepala, karena orang yang menyaksikan iu memberitahukan tentang apa yang disaksikan dan dilihatnya. Adapun fungsi saksi adalah: sebagai penguat terhadap suatu perkara yang ada di pengadilan, memberikan kebenaran terhadap suatu perkara atau sebaliknya dan dapat memberatkan atau meringankan terhadap perkara.
Syarat- syarat menjadi saksi
Islam, adil, baligh dan berakal, orang yang merdeka bukan hamba sahaya yang tidak mempunyai kekuasaan terhadap dirinya terlebih orang lain, dan dapat berbicara.
Kesaksian orang buta itu diperbolehkan oleh imam malik dan imam ahmad dalam hal yang secara kesaksian adalah pendengaran, bila ia mengenal suara. Oleh sebab itu kesaksian orang buta diterima dalam hal nikah, talaq, jual beli, pinjam- meminjam, nasab dan wakaf. Sedangkan imam syafi’i berpendapat : tidak diterima kesaksian orang buta, kecuali dalam lima tempat ; nasab, kematian, milik mutlak, riwayat hidup dan tempatnya mengenai apa yang disaksikan sebelum dia buta. Sementara Imam Abu hanifah berpendapat tidak di terima sama sekali kesaksian orang buta.

[1] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Semarang:PT.Pustaka Rizki Putra, 2001) hlm..3.
[2] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Peradilan dan Hukum Acara Islam…,hlm..34.
[3] Alaiddin Kolo, sejarah Peradilan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011).hlm.13.
[4] Zaini Ahmad Noeh, Peradilan Agama Islam (Jakarta: PT Intermasa,1986). hlm, 1-2.
[5] Syekh Muhammad ibn Qosim Al-Ghazi, Fathul Qorib Al Mujib, (Semarang: Thoha Putra, tp. Th), hlm.65.
[6] Syekh Muhammad ibn Qosim Al-Ghazi, Fathul Qorib Al Mujib, (Semarang: Thoha Putra, tp. Th), hlm.66.

Dikirim pada 12 Juni 2013 di Uncategories
Dikirim pada 12 Juni 2013 di Uncategories


[if gte mso 9]>
Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
AR-SA
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-bidi-font-family:Arial;}
HADIS TENTANG PERNIKAHAN
I. PENDAHULUAN
Agama Islam dengan kandungan hukumnya yang universal dan mampu menjelaskan keseluruhan yang dibutuhkan dalam hidup manusia, telah memberikan aturan yang sangat jelas bagi kedua orang yang hendak melangsungkan pernikahan, laki-laki dan wanita. Sesungguhnya satu-satunya petunjuk bagi manusia adalah petunjuk yang datangnya dari Allah SWT Untuk itu bagi seseorang yang ingin menikah maka keduanya harus saling memahami, mencintai, dan mengasihi. Artinya, sebelum melangsungkan pernikahan atau pada masa lamaran, pihak laki-laki maupun wanita harus saling mengutarakan visi dan misinya sehingga kedua belah pihak saling memahami dan mengerti.
Islam sangat memperhatikan keluarga, Islam juga memberikan penjelasan yang konkret bahwa betapa pun keluarga itu harus diwarnai dengan rasa cinta kasih dan sayang. Islam mengingatkan bahwa pernikahan itu tidak hanya sekedar teori dari adanya seorang laki-laki yang merasa cenderung dan tertarik kepada seseorang wanita kemudian melampiaskan nafsunya, seperti menurut anggapan falsafah yang ada.
Tetapi, pernikahan itu sebuah ikhtiar seseorang untuk membentuk keluarga yang harus memperhatikan hak-hak Allah SWT guna melahirkan keturunan atau generasi dengan menjaga nilai-nilai ajaran serta prinsip Islam. Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang pengertian pernikahan, kategori-kategori untuk memilih jodoh, nikah sebagai sunnah Nabi dan anjuran-anjuran untuk menikah yang sesuai dengan hadis-hadis yang akan dipaparkan di makalah ini secara sistematis dan gamblang.

II. RUMUSAN MASALAH

Apa pengertian Pernikahan itu?
Jelaskan tentang kategori-kategori apa saja dalam pemilihan jodoh?
Jelaskan tentang nikah sebagai sunnah Nabi?
Jelaskan tentang anjuran-anjuran untuk menikah?





III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Pernikahan
Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk memenuhi tujuan hidup berumah tangga sebagai suami istri yang dengan memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan oleh syariat Islam.
Pernikahan merupakan cara yang dipilih oleh Allah SWT sebagai jalan bagi manusia untuk melakukan hubungan seksual secara sah antara laki-laki dan perempuan, serta cara untuk mempertahankan keturunannya. Allah SWT tidak menjadikan manusia seperti makhluk lainnya yang bebas mengikuti nalurinya tanpa ada aturan dan batasan. Allah SWT tidak menghendaki pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan dalam menyalurkan nafsu seksualnya, sehingga tercipta hubungan yang teratur harmonis dan serasi serta saling meridhai[1].
Dengan tali suci pernikahan, mendekatnya laki-laki kepada perempuan yang semula haram menjadi halal. Laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan tali suci pernikahan tak hanya dibebaskan untuk saling mendekat, bahkan diwajibkannya pula untuk bersatu dalam senggama suci yang dinilainya selaku ibadah. Diberinya pahala maka dari persatuan itu akan terlahir anak-anak dari keduanya kemudian, seperti yang dikehendaki Allah SWT
Dengan ikatan tali suci pernikahan, kehormatan dan keagungan ras manusia akan terjaga. Terhindar pula bagi manusia untuk berperilaku laksana hewan yang bebas sebebas-bebasnya untuk saling mendekat dan bersatu tanpa ikatan[2].
Ketentuan-ketentuan mengenai pernikahan menurut syariat Islam mengikat kepada setiap muslim dan setiap muslim perlu menyadari bahwa di dalam pernikahan diistilahkan oleh Al Qur’an dengan “Mitsaaqan ghalidza”, suatu ikatan janji yang kokoh. Sebagai suatu ikatan yang mengandung nilai ubudiyah. Maka memperhatikan keabsahannya menjadi hal yang sangat prinsipil[3].




B. Kategori-kategori dalam Pemilihan Jodoh
1) Hadis Abu Hurairah tentang kategori pemilihan jodoh.
عَنْ أَبِي هُرَ يْرَ ةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْ أَةُ ِلاَ رْبَعٍ لِمَا لِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِ بَتْ يَدَاكَ (اَخْرَجَهُ الْبُخَا رِيُّ فِيْ كِتَابِ النِّكاَحِ)
Artinya: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu `anhu bahwa Nabi Shallallaahu `Alaihi Wa Sallama bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, maka engkau akan berbahagia. (H.R. Imam Bukhari)[4].

1) Memilih Istri
Orang yang menikah dengan mempertimbangkan tiga hal tersebut diatas yakni harta, kecantikan, dan nasab mengharapkan kebahagiaan dan keamanan. Ketika dia bersama istri yang tidak beriman dengan baik dan tidak berada pada jalan yang lurus dan tenang, maka jika kendalinya membawa pada arus nafsu yang bergejolak, akan mendorong dirinya untuk bersenang-senang dan kenikmatan yang tidak dibatasi dengan keutamaan dan dasar pokok, sehingga tidak mencapai tujuan utama pernikahan dan menjadi jauh dari keamanan dan kebahagiaan.
Semua itu merupakan perhiasan dunia dapat diketahui dari kenyataan hidup sekarang bahwa sesuatu yang tidak tetap dalam keadaannya; harta, intuisi banyak menjadi penyebab kerusakan dan kehilangan, nasab yang ada menjadi penyebab perubahan dan perpindahan, kecantikan fisik tidak akan berlangsung lama. Bahkan akan pudar dengan cepat. Adapun agama akan tetap disebut dan diingat sampai seseorang meninggal dunia.
Janganlah engkau menikah dengan perempuan yang mempunyai ciri-ciri:
a) Ananah, yaitu perempuan penuh ego dan pemalas.
b) Munanah, yaitu seorang perempuan yang mengharapkan suaminya sesuai dengan keinginannya atau pemberiannya.
c) Hananah, yaitu seorang perempuan yang telah memiliki anak yang dia rindu kepadanya atau perempuan yang memiliki suami yang dicintai sebelumnya.
d) Hadaqah, yaitu perempuan yang selalu mencuri, dan membebankan segala sesuatu kepada suaminya.
e) Baraqah, yaitu perempuan yang sibuk dengan wajah, tangan, dan kakinya, mengecatnya dengan warna merah atau putih berhias dan mempercantik diri.
f) Syadaqah, yaitu perempuan yang banyak berbicara dan sedikit diam.
g) Mumirradh, yaitu seorang perempuan yang pura-pura sakit setiap ada pekerjaan, bersenang-senang, dan suka bersantai-santai[5].
Imam Nawawi mengatakan “Alangkah idealnya jika seorang istri selain memiliki agama dia juga cantik dan pintar”. Seorang istri yang pintar dia akan sanggup membangun rumah tangganya yang harmonis. Sementara seorang istri yang bodoh dia justru akan merobohkan rumah tangganya.
Menikahi wanita yang masih perawan juga dianjurkan, karena dia lebih menjanjikan kesenangan dan kenikmatan pada saat pertama menggaulinya, karena wanita seperti ini belum memiliki pengalaman tentang pernikahan. Akibatnya, dia cenderung sangat mencintai suaminya. Sementara wanita yang sudah janda dia dapat membandingkan antara suaminya yang pertama dengan suaminya yang kedua.
Sebaiknya seorang istri bukan berasal dari kerabat dekat sendiri. Sebab menurut ilmu genetika dan keturunan salah satu faktor yang menjadi penyebab menyusutnya jumlah keturunan adalah karena pernikahan antar keluarga. Hal itulah yang menimbulkan melemahnya masalah keturunan[6].
Istri tempat penenang bagi suaminya, tempat menyemaikan benihnya, sekutu hidupnya, pengatur rumah tangganya, ibu dari anak-anaknya, tempat tambatan hatinya, tempat menumpahkan rahasianya dan mengadukan nasibnya. Karena itu Islam menganjurkan agar memilih istri yang salehah dan menyatakannya sebagai perhiasan yang terbaik yang sepatutnya dicari dan diusahakan mendapatkannya dengan sungguh-sungguh.
Yang dimaksud salehah disini adalah hidup mematuhi agama dengan baik, bersikap luhur, memperhatikan hak-hak suaminya dan memelihara anak-anaknya dengan baik sifat-sifat seperti inilah yang sepatutnya diperhatikan oleh laki-laki. Perempuan yang akan dipinang itu sebaiknya memenuhi syarat-syarat dari lingkungan terhormat dan baik keturunannya, tenang, selamat dari gangguan-gangguan kejiwaan karena perempuan yang demikian lebih bisa menyayangi anak-anaknya dan mengurus kepentingan suaminya dengan baik[7].
Sepasang suami istri harus mampu memahami dengan benar ajaran agama Islam dan mampu mengaplikasikan ajaran itu dalam bentuk perbuatan dan sikap baik, memiliki tata krama yang lembut dan halus. Keduanya harus mampu berpegang teguh dengan cara dan metode untuk menjalani hidup di dunia sesuai dengan syariat Islam[8].

2) Memilih Suami
Suami yang terpuji dalam pandangan Islam adalah yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang utama, sifat kejantanan yang sempurna, memandang kehidupan dengan benar, melangkah pada jalan yang lurus, dia bukanlah orang yang memiliki kekayaan, atau orang yang memiliki fisik yang baik dan kedudukan tinggi, dengan tanpa memberi pertolongan dengan memberikan anugerah dan unsur yang baik[9].
Seorang mukmin sejati meskipun miskin dia akan menjaga istrinya dan memperlakukannya dengan baik. Pasangan yang memilih suami atau istrinya karena pemahaman agama yang benar, maka dia tidak akan merasa keberatan untuk memberikan hak pendidikan anak, tentunya pendidikan yang terbaik.
Rasulullah SAW memerintahkan seluruh umatnya untuk lebih menekankan faktor pemahaman agama yang baik. Sehingga, pernikahan tidak terasa hambar dan kering. Dengan memiliki pasangan dari agamanya, pernikahan akan mampu menciptakan keluarga yang baik, masing-masing memberikan haknya, mendidik anak dengan baik dan benar, serta melindungi rumah tangga dengan lapang dada[10].
Masyarakat muslim Jawa ketika menentukan pasangan atau menantu berdasarkan beberapa kriteria yaitu; bibit,bobot, dan bebet. Bibit adalah kriteria penentuan bakal pasangan dengan memperhitungkan keturunan atau nasab. Bobot adalah kriteria penentuan pasangan yang didasarkan pada kinerja ekonomi, etos kerjanya, kekayaan dan materi. Bebet adalah kriteria penentuan pasangan yang didasarkan pada status sosial serta penampilan, pendidikan dan perilaku keseharian[11].

C. Pernikahan Sebagai sunnah Nabi
Hadis Aisyah tentang Nikah sebagai sunnah Nabi.
عَنْ عَا ئِثَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ وَتَزَوَّجُوْا فَإِ نِّيْ مُكَا ئِرٌ بِكُمُ اْلاُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِا لصِّيَامِ فَإِ نَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ (اَخْرَجَهُ اِبْنُ مَا جَهْ فِيْ كِتَابِ النِّكاَحِ)
Artinya: Dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu `Alaihi Wa Sallama Bersabda: Menikah adalah sunnah-Ku, barang siapa tidak mengamalkan sunnah-Ku berarti bukan dari golongan-Ku. Hendaklah kalian menikah sungguh dengan jumlah kalian aku berbanyak-banyakan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak memiliki hendaknya puasa, karena puasa itu merupakan perisai. (H.R. Ibnu Majah)[12].

Dalam aspek agama pernikahan merupakan perkara yang suci dengan demikian pernikahan menurut Islam merupakan ibadah, yaitu dalam rangka terlaksananya perintah Allah SWT atas petunjuk Rasul Nya yakni terpenuhinya rukun dan syarat nikah[13].
Suatu saat manusia berkhayal untuk hidup membujang dan menjauhkan diri dari masalah duniawi, hidup hanya untuk shalat malam, berpuasa dan tidak mau menikah selamanya sebagai hidupnya seorang pendeta yang menyalahi tabiat (naluri) manusia sehat. Islam memperingatkan bahwa hidup semacam ini berlawanan dengan fitrah dan menyalahi ajaran agama. Karena Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah SWT masih tetap berpuasa dan berbuka, shalat malam, tidur dan menikah pula. Dan orang yang mau menyalahi tuntutan ini tidak patut digolongkan sebagai umat beliau.
Sebagaimana kita ketahui bahwa nikah itu penting dan perlu sekali, dan tidaklah ada orang yang tidak mau, kecuali mereka jiwanya yang lemah dan durhaka saja sebagaimana dikatakan oleh khalifah Umar bin Khaththab dan karena hidup kependetaan memang tidak dibenarkan oleh Islam, juga karena tidak mau menikah hanya akan menyebabkan seseorang kehilangan banyak keuntungan dan kebaikannya[14].
Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi’ dalam bukunya Kado Pernikahan mengatakan bahwa menikah juga termasuk mencari cinta Rasulullah SAW dengan cara memperbanyak keturunan, karena Rasulullah SAW akan membanggakan kita pada umat-umat lain pada Hari Kiamat kelak[15].
Dengan menikah maka akan dimasukkan oleh Rasulullah SAW kedalam kelompok orang yang telah menyempurnakan separuh dari agama Islam. Jika masing-masing ridha terhadap pasangannya dan mereka menyempurnakan segala tata aturan keagamaan maka dia mendapat jaminan masuk surga bersama dengan orang-orang yang mendahuluinya. Dengan menikah yang dibalut dengan ketaatan bersama dalam agama, maka pasangan tersebut juga akan kembali berkumpul di akhirat. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah SAW bahwa jika ada seorang perempuan yang meninggal sedang suaminya ridha kepadanya maka dia akan pasti masuk surga. Selama dia menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan dalam Islam[16].

D. Anjuran-anjuran Untuk Menikah
1. Hadis Abdullah bin Mas’ud tentang anjuran untuk menikah.
عَنْ عَبْدِ الَّرحْمَنِ بْنِ يَزِ يْدِ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ لَنَا رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمَّ يَا مَعْشَرَ الشَّبَا بِ مَنِ اسْتَطَا عَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَالْيَتَزَ وَّجْ فَئِانَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَاَحْصَنُ لِلْفَرْ جِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِا الصَّوْ مِ فَاءِ نَّهُ
لَهُ وِجَا ءٌ (اَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِيْ كِتَابِ النِّكاَحِ)
Artinya: Dari Abdirrahman bin Yazid, Abdullah berkata: Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa Sallama bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab puasa dapat mengendalikanmu." (H.R. Imam Muslim)[17].
Bagi yang sudah mampu menikah, nafsunya telah mendesak dan takut terjerumus dalam perzinaan wajiblah dia menikah. Karena menjauhkan diri dari yang haram adalah wajib, tidak dapat dilakukan dengan jalan lain yang baik kecuali dengan jalan menikah. Jika nafsunya telah mendesaknya, sedangkan dia tidak mampu menafkahi istrinya, maka Allah SWT nanti akan melapangkan rizkinya. Hendaknya orang seperti ini banyak berpuasa[18].
Berhubungan badan sesama suami istri adalah bagian dari sunnah para rasul. Berhubungan badan sebaiknya dilakukan setelah makanan dicerna, suhu badan stabil, tidak terlalu kenyang dan tidak lapar. Faktor terpenting yang menyebabkan terhambatnya ereksi pada laki-laki adalah kepenatan tubuh dan psikologi. Kepenatan merupakan sembilan puluh persen sebab terjadinya impotensi pada sebagian laki-laki. Oleh karena itu dianjurkan tidak melakukan hubungan badan setelah bekerja berat, apalagi kondisi psikologis tidak normal. Jika dilakukan setelah bekerja berat atau kondisi psikologi tidak normal dapat berpengaruh pada pusat-pusat saraf otak yang bekerja ketika terjadi hubungan badan.
Makanan yang kuat untuk menguatkan hubungan badan adalah memakan hims (bawang merah), daging, telur ayam, telur puyuh dan susu. Demikian juga memakan biji sari pati cemara, buncis turnik (sejenis lobak), wortel, anggur, asparagus, kacang tanah, badam, buah kemiri dan makanan sejenisnya serta menjauhi makanan yang asam atau asin[19]. Pernikahan dalam Islam tidak hanya demi kepuasan seks semata, tetapi ada beberapa manfaat diantaranya;
1) Menjaga Generasi Manusia
Pernikahan bertujuan untuk melangsungkan keturunan manusia agar dia dapat terus menjaga dan melestarikan bumi ini, sebagaimana amanat yang diembankan Allah SWT
2) Menjaga Keturunan
Pernikahan yang disyariatkan Allah SWT untuk umat manusia akan menjadikan seorang anak mengetahui ayah kandungnya.
3) Menyelamatkan Masyarakat dari Kebobrokan Akhlak
Pernikahan juga akan memberikan rasa aman, tentram, nyaman, dan menyenangkan yang akan tertanam pada setiap individu yang telah mengalaminya.
4) Menyelamatkan Masyarakat dari Penyakit Sosial
Dengan pernikahan akan mampu menyelamatkan masyarakat dari penyakit sosial yang saat ini sudah menjalar kemana-mana.
5) Kedamaian Jiwa dan Raga
Pernikahan akan menimbulkan dan kecenderungan merasa tentram dan menjadikan pasangan suami istri itu rasa kasih dan sayang.

6) Terjalinnya Kerja Sama Antara Suami dan Istri
Pernikahan yang sah dan sesuai dengan syariat Allah SWT akan memiliki keturunan yang sah juga, untuk itu keduanya pasti akan saling bahu membahu atau bekerja sama untuk membangun keluarga yang baik.
7) Menyalakannya Semangat Kasih Sayang dari Orang tua
Pernikahan yang sah dan sesuai dengan syariat (bukan karena telah terjadinya zina) akan menyalakan semangat kasih sayang dari orang tua kepada anaknya[20].
IV. KESIMPULAN
Pertama, Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk memenuhi tujuan hidup berumah tangga sebagai suami istri yang dengan me

Dikirim pada 30 April 2013 di agama
23 Apr


cinta memang harus butuh saling pengertian

Dikirim pada 23 April 2013 di Uncategories
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah muhammad silahuddin ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 35.331 kali


connect with ABATASA